Pagi itu, seperti biasa, ia membuat banyak rencana.

Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, keluarga yang ingin dibahagiakan, rumah yang ingin diperbaiki, dan berbagai keinginan yang masih ingin diwujudkan.

Ia merasa masih punya banyak waktu.

Sampai sebuah kabar datang: seseorang yang kemarin masih berbicara dan tersenyum, hari ini telah pergi untuk selamanya.

Saat itulah muncul sebuah pertanyaan sederhana:

Bagaimana jika suatu hari nanti, giliran kita yang pergi?

Kematian adalah kepastian. Allah berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)

Yang tidak kita ketahui hanyalah kapan waktunya.

Dan justru karena waktunya dirahasiakan, kita tidak boleh menunda persiapan.

Jika Hari Ini Adalah Hari Terakhirku

Coba bayangkan jika hari ini benar-benar menjadi hari terakhir kita.

Apa yang ingin kita lakukan?

Mungkin kita ingin meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti. Ingin memeluk orang tua. Ingin menyelesaikan hutang. Ingin memperbanyak ibadah dan memohon ampun kepada Allah.

Hal-hal yang selama ini kita anggap kecil tiba-tiba menjadi sangat berarti.

Renungan [Jika Hari Ini Adalah Hari Terakhirku] mengajak kita berhenti sejenak dan bertanya: Sudah siapkah kita jika kesempatan hidup ternyata berhenti hari ini?

Pertanyaan itu memang tidak nyaman.

Tetapi terkadang, pertanyaan yang tidak nyaman justru membuat kita mulai memperbaiki kehidupan.

Ketika Orang yang Kita Cintai Pergi

Kematian seseorang yang kita cintai meninggalkan ruang kosong.

Kursinya masih ada.

Foto-fotonya masih tersimpan.

Namanya masih ada di kontak telepon.

Tetapi orangnya tidak akan kembali.

Dalam kesedihan itu, kita belajar bahwa kehidupan memang tidak selamanya.

Mereka yang kita cintai bisa pergi lebih dahulu, dan suatu hari nanti kita pun akan menyusul.

Karena itu, [Ketika Mereka Pergi Lebih Dulu: Hikmah dari Kematian Orang-Orang Terkasih] bukan hanya tentang kehilangan, tetapi juga tentang pelajaran yang ditinggalkan oleh sebuah kepergian.

Mereka mengingatkan kita untuk lebih menghargai waktu yang masih diberikan Allah.

Mempersiapkan Kematian Dimulai dari Sekarang

Mempersiapkan kematian bukan berarti berhenti menikmati kehidupan.

Kita tetap boleh bekerja, mencari rezeki, membangun keluarga, memiliki cita-cita dan menikmati karunia Allah.

Namun jangan sampai kesibukan dunia membuat kita lupa bahwa semua itu akan ditinggalkan.

Harta akan ditinggalkan.

Jabatan akan berakhir.

Rumah akan ditinggalkan.

Tubuh pun akhirnya kembali ke tanah.

Lalu apa yang kita bawa?

Amal.

Karena itu, [Mempersiapkan Kematian yang Pasti: Jalan Menghapus Dosa dan Menambah Bekal Akhirat] menjadi bagian penting dari perjalanan hidup seorang Muslim.

Selama masih bernapas, pintu taubat masih terbuka.

Jika pernah berbuat salah, perbaiki.

Jika memiliki dosa, bertobat.

Jika menyakiti seseorang, minta maaf.

Jika memiliki kemampuan untuk bersedekah, lakukan.

Jangan menunggu tua untuk mulai menjadi baik.

Mengingat Mati Justru Membuat Hidup Lebih Baik

Ada sebuah paradoks tentang kematian.

Semakin sering kita mengingatnya, seharusnya semakin baik cara kita menjalani kehidupan.

Kita menjadi lebih berhati-hati menggunakan waktu.

Tidak ingin terlalu lama menyimpan dendam.

Lebih mudah meminta maaf.

Lebih menghargai keluarga.

Lebih peduli kepada sesama.

Itulah makna dari [Mengingat Mati sebagai Jalan Memperbaiki Hidup].

Kematian bukan hanya tentang akhir kehidupan.

Ia adalah pengingat agar kehidupan yang sedang kita jalani tidak sia-sia.

Dunia Bukan Tujuan Akhir

Ketika kematian datang, semua yang kita miliki harus ditinggalkan.

Orang kaya dan miskin sama-sama kembali kepada Allah.

Orang berpangkat dan rakyat biasa sama-sama meninggalkan dunia.

Orang terkenal dan orang yang tidak dikenal sama-sama menghadapi kematian.

[Ketika Kematian Datang, Semua Menjadi Sama] mengingatkan kita bahwa perbedaan dunia pada akhirnya akan kehilangan maknanya.

Dalam Islam, kematian bukan akhir dari seluruh perjalanan.

Ia adalah awal perjalanan menuju kehidupan akhirat.

Karena itu, [Kematian: Akhir Dunia, Awal Perjalanan yang Sebenarnya] mengajak kita memahami bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal selamanya.

Sakaratul Maut: Saat Kesempatan Berakhir

Ada satu fase yang pasti akan kita hadapi: sakaratul maut.

Allah berfirman:

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.”
(QS. Qaf: 19)

Saat itu tiba, semua rencana dunia berhenti.

Tidak ada lagi “nanti”.

Tidak ada lagi kesempatan untuk menunda.

Yang tersisa hanyalah perjalanan menuju Allah.

Karena itu, renungan [Sakaratul Maut: Saat Jiwa Pulang dengan Lembut dalam Kasih Sayang Allah] seharusnya mendorong kita untuk mempersiapkan hati sejak sekarang.

Perbanyak istighfar.

Perbaiki ibadah.

Selesaikan kewajiban.

Jaga hubungan dengan sesama.

Dan jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah.

Apa yang Al-Qur'an dan Hadis Ajarkan?

Al-Qur'an dan hadis memberikan banyak pengingat tentang kematian.

Kematian adalah sesuatu yang pasti, sementara waktu kedatangannya tidak diketahui manusia.

Rasulullah ï·º juga mengajarkan umatnya untuk banyak mengingat kematian agar manusia tidak terlena oleh kehidupan dunia.

Pembahasan lebih lengkap mengenai hal tersebut dapat dibaca dalam [Pandangan Al-Qur'an dan Hadis tentang Kematian].

Mengingat kematian bukan berarti hidup dalam ketakutan.

Justru ia membuat kita sadar bahwa waktu adalah amanah.

Mengapa Kematian Terasa Begitu Jauh?

Aneh memang.

Kita sering mendengar kabar orang meninggal.

Kita menghadiri pemakaman.

Kita melihat kehilangan orang lain.

Namun setelah beberapa waktu, kita kembali menjalani kehidupan seperti biasa.

Kita kembali sibuk mengejar uang, pekerjaan, popularitas, dan berbagai urusan dunia.

Kematian yang tadi terasa dekat perlahan kembali terasa jauh.

Inilah yang dibahas dalam [Ketika Kematian Terasa Jauh: Tentang Kelalaian yang Kita Rawat Diam-Diam].

Padahal kematian tidak pernah benar-benar jauh.

Kitalah yang sering lupa.

Berdamai dengan Kematian

Kita mungkin takut mati.

Itu manusiawi.

Namun iman mengajarkan bahwa kehidupan dunia bukanlah kehidupan terakhir.

Ada kehidupan setelah kematian.

Ada perjumpaan dengan Allah.

Karena itu, berdamai dengan kematian bukan berarti menyerah kepada kematian.

Berdamai dengan kematian berarti menerima bahwa setiap kehidupan memiliki batas dan menggunakan waktu yang tersisa untuk mempersiapkan perjalanan berikutnya.

Seperti yang direnungkan dalam [Catatan Hati: Belajar Berdamai dengan Kematian Lewat Iman], iman membuat kita melihat kematian bukan hanya sebagai kehilangan, tetapi sebagai bagian dari perjalanan seorang hamba menuju Tuhannya.

Kematian Adalah Rahasia, Tetapi Kepastiannya Bukan

Kita tidak tahu kapan akan mati.

Besok?

Tahun depan?

Puluhan tahun lagi?

Tidak ada yang tahu.

Itulah rahasia Allah.

Tetapi satu hal sudah pasti:

Kita akan mati.

Maka jangan menunggu hari yang dianggap tepat untuk berubah.

Jangan menunggu tua untuk bertobat.

Jangan menunggu sakit untuk memperbanyak ibadah.

Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang-orang yang kita cintai.

Dan jangan menunggu kematian terasa dekat untuk mulai mempersiapkan akhirat.

Selama napas masih ada, kesempatan masih terbuka.

Kesempatan untuk meminta maaf.

Kesempatan untuk memaafkan.

Kesempatan untuk bersedekah.

Kesempatan untuk memperbaiki ibadah.

Kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Pembahasan tentang misteri waktu kematian ini dapat direnungkan kembali melalui [Kematian: Rahasia yang Disimpan Allah].


Mempersiapkan Tempat Peristirahatan Terakhir

Mempersiapkan kematian bukan berarti mengharapkan kematian datang lebih cepat.

Justru sebaliknya.

Ia adalah bentuk kesadaran bahwa setiap manusia memiliki perjalanan yang pada akhirnya harus diselesaikan.

Selain mempersiapkan amal dan bekal akhirat, sebagian keluarga Muslim juga memilih mempersiapkan tempat peristirahatan terakhir sejak jauh-jauh hari.

Tujuannya bukan sekadar memiliki lahan pemakaman, tetapi memberikan ketenangan bagi keluarga dan memastikan pemakaman dapat dilakukan dengan baik sesuai prinsip syariah.

Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah Al-Azhar Memorial Garden, taman pemakaman Muslim yang mengusung konsep pemakaman sesuai syariah.

Dengan mempersiapkan tempat pemakaman lebih awal, keluarga tidak perlu mengambil keputusan dalam suasana duka dan terburu-buru ketika musibah datang.

Sebab kita memang tidak pernah tahu kapan waktunya tiba.

Kematian adalah rahasia Allah. Mempersiapkan diri adalah ikhtiar kita.

Sebelum Halaman Terakhir Ditutup

Pada akhirnya, kita tidak bisa memilih kapan kematian datang.

Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana menggunakan waktu sebelum kematian itu datang.

Selama napas masih ada, mari gunakan kesempatan itu untuk memperbaiki diri.

Perbanyak kebaikan.

Lepaskan dendam.

Mintalah maaf.

Maafkan orang lain.

Perbaiki hubungan dengan Allah.

Dan siapkan bekal untuk perjalanan yang jauh lebih panjang.

Karena mungkin saja, hari yang kita jalani dengan biasa-biasa saja ternyata merupakan salah satu halaman terakhir dalam kisah kehidupan kita.

Dan ketika halaman itu benar-benar ditutup, semoga kita meninggalkan dunia dengan membawa iman, amal saleh, serta hati yang telah berdamai dengan ketetapan Allah.

Semoga Allah memberikan kita husnul khatimah dan menjadikan kematian sebagai pintu menuju rahmat-Nya. Aamiin.