Hari itu, aku duduk lebih lama dari biasanya. Ponsel di tanganku terasa berat, bukan karena isinya, tapi karena kabar yang baru saja kuterima. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku—dengan doa, nasihat, atau sekadar kehadiran—telah berpulang. Tidak ada perpisahan panjang. Tidak ada kesempatan berkata, “Tunggu sebentar.” Kematian selalu datang dengan caranya sendiri: diam-diam, tapi pasti.
Aku terdiam. Bukan karena tak ingin menangis, tapi karena hatiku mencoba memahami satu hal: bagaimana caranya berdamai dengan kehilangan?
Di saat seperti itu, iman terasa bukan sebagai konsep besar yang sering kita dengar di mimbar, melainkan sebagai pegangan kecil yang menahan hati agar tidak runtuh sepenuhnya. Aku menangis, tentu saja. Tapi di sela air mata itu, ada kalimat yang berulang dalam benakku: “Ini bukan akhir.”
Iman mengajarkanku bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan. Kalimat itu sering kudengar, tapi baru benar-benar kurasakan maknanya ketika kematian menyentuh lingkaran terdekatku. Dunia yang selama ini terasa panjang, mendadak seperti jeda singkat. Dan aku sadar, orang yang kita cintai tidak benar-benar pergi—mereka hanya lebih dulu sampai.
Malam-malam setelah kepergian itu terasa sunyi. Ada rindu yang datang tanpa aba-aba. Ada kebiasaan kecil yang kini terasa hampa. Namun perlahan, aku belajar satu hal penting: keikhlasan bukan berarti melupakan, tapi menerima dengan hati yang berserah.
Aku belajar mengucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” bukan sekadar sebagai formalitas. Aku mencoba menghayatinya. Bahwa ia memang milik Allah. Bahwa aku pun milik Allah. Dan bahwa perpisahan ini bukan keputusan manusia, melainkan ketetapan Sang Pemilik hidup.
Keikhlasan ternyata bukan proses yang instan. Ada hari ketika aku merasa kuat, ada hari ketika hatiku kembali rapuh. Tapi iman mengajarkanku untuk tidak memusuhi perasaan itu. Sedih bukan dosa. Rindu bukan tanda kurang percaya. Justru dalam kesedihan itulah aku belajar mendekat kepada Allah dengan cara yang lebih jujur.
Aku mulai lebih sering berdoa, bahkan ketika kata-kata tak tersusun rapi. Kadang hanya diam, kadang hanya air mata. Dan anehnya, di situlah aku merasa paling didengar. Tawakal pelan-pelan tumbuh—bukan karena aku sudah sepenuhnya mengerti takdir, tapi karena aku percaya Allah tidak pernah keliru.
Tawakal mengajarkanku berhenti bertanya, “Kenapa harus sekarang?” dan mulai belajar bertanya, “Apa yang Allah ingin aku pahami?” Dari kehilangan ini, aku jadi lebih berhati-hati memperlakukan waktu. Lebih lembut kepada orang-orang. Lebih sadar bahwa menunda kebaikan adalah kerugian yang nyata.
Kematian orang terdekat juga membuatku berpikir tentang diriku sendiri. Tentang akhir yang suatu hari pasti kutemui. Anehnya, iman membuat pikiran itu tidak menakutkan, justru menenangkan. Karena kematian, dalam kacamata iman, bukan hukuman—melainkan pertemuan.
Ada harapan yang terus kupelihara: semoga Allah melapangkan kuburnya, mengampuni dosanya, dan menerimanya dengan rahmat-Nya. Harapan ini menjadi obat yang menenangkan. Bahwa kasih sayang Allah jauh lebih luas daripada rasa kehilangan yang kurasakan.
Aku juga belajar bahwa hubungan tidak berhenti di liang lahat. Doa menjadi cara baru mencintai. Setiap kali kusebut namanya dalam doa, aku merasa dekat kembali. Setiap sedekah yang kualirkan atas namanya, aku merasa masih bisa berbuat sesuatu. Dan iman mengajarkanku bahwa tidak ada doa yang benar-benar sia-sia.
Kini, saat aku menulis catatan ini, rasa sedih itu masih ada. Tapi ia tidak lagi menyesakkan. Iman tidak menghilangkan duka, namun mengubahnya menjadi ketenangan yang pelan-pelan tumbuh. Aku belajar berdamai—bukan karena aku kuat, tetapi karena aku percaya Allah Maha Lembut kepada hamba-Nya.
Semoga ketika giliranku tiba, aku pun dipanggil dalam keadaan hati yang siap. Dan semoga Allah mempertemukan kembali kami, bukan di dunia yang fana ini, tetapi di tempat terbaik yang telah Dia janjikan.
Ya Allah, ajari kami ikhlas saat Engkau mengambil. Ajari kami tawakal saat kami tak mengerti. Dan kuatkan iman kami, agar setiap perpisahan selalu berujung pada harapan. Aamiin. 🤲

0 Komentar