Ada satu kenyataan yang hampir pasti kita yakini, tapi jarang benar-benar kita sadari: kematian itu dekat. Sangat dekat. Namun entah mengapa, ia sering kita letakkan jauh—di usia senja, di ranjang rumah sakit, atau di cerita orang lain. Bukan di hari ini. Bukan pada diri kita.
Dalam Islam, keadaan ini disebut ghaflah—lalai. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena tahu lalu berpaling. Kita tahu hidup ini sementara, tapi bersikap seolah ia panjang. Kita tahu dunia bukan tujuan, tapi mengejarnya seperti satu-satunya yang ada.
Saya menulis ini bukan dari posisi lebih sadar. Justru sebaliknya. Ini pengakuan.
Setiap pagi, kita bangun dengan daftar kesibukan: mengejar setoran, target, deadline, cicilan. Di kota-kota besar Indonesia, pagi dimulai dengan klakson, notifikasi, dan kopi instan. Kita terburu-buru, bahkan sebelum benar-benar hadir dalam hidup kita sendiri. Shalat subuh kadang dikerjakan sambil setengah mengantuk—atau lebih sering, “nanti saja”.
Hari lalu berjalan cepat. Grup WhatsApp kantor, notifikasi marketplace, video pendek yang tak terasa menghabiskan satu jam. Kita sibuk—atau lebih tepatnya, disibukkan. Dan kesibukan itu terasa sah, bahkan mulia. Bukankah kita sedang bekerja? Mencari nafkah? Berjuang demi keluarga?
Ya, semua itu benar. Tapi di situlah kelicikannya.
Dunia tidak selalu menjauhkan kita dari akhirat dengan hal-hal haram. Justru sering ia datang lewat yang halal: kerja keras, ambisi, tabungan, properti, rencana masa depan. Semua baik. Semua masuk akal. Namun perlahan, ia menggeser pusat hidup kita. Allah menjadi sisipan, bukan poros.
Kita menabung untuk masa tua, tapi jarang menabung amal untuk alam kubur. Kita takut saldo menipis, tapi tidak resah ketika shalat mulai bolong. Kita cemas harga naik, tapi tenang saja ketika iman turun.
Padahal Rasulullah ï·º telah mengingatkan dengan sangat jujur: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan (kematian).” Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meluruskan arah.
Di Indonesia, kematian sebenarnya dekat dengan kita. Hampir setiap minggu ada kabar duka: tetangga yang mendadak meninggal, teman sekolah yang wafat karena kecelakaan, saudara yang berpulang tanpa sempat berpamitan. Kita melayat, membaca Yasin, mengantar jenazah ke kubur. Air mata jatuh. Hati tergetar.
Tapi anehnya, setelah itu kita pulang—dan hidup kembali seperti biasa.
Seolah kematian hanya singgah sebentar, bukan pesan panjang untuk kita.
Ghaflah membuat kita merasa waktu selalu cukup. Nanti taubat. Nanti hijrah. Nanti lebih rajin ibadah kalau sudah mapan. Nanti lebih dekat dengan Allah kalau urusan dunia sudah beres. Padahal, siapa yang menjamin semua “nanti” itu ada?
Kematian tidak menunggu kita selesai. Ia datang di sela rapat, di perjalanan pulang, di tengah tidur. Ia tidak peduli apakah mimpi kita sudah tercapai atau belum.
Yang paling menyedihkan dari ghaflah bukanlah dosa besar, tapi kelupaan kecil yang terus dibiarkan: lupa bersyukur, lupa berdoa dengan sungguh-sungguh, lupa menangis dalam sujud, lupa bahwa kita sedang berjalan menuju akhir.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Telah dekat kepada manusia hari perhitungan mereka, sedang mereka dalam kelalaian berpaling.” (QS. Al-Anbiya: 1)
Ayat ini tidak menyebut orang kafir. Ia menyebut manusia. Kita.
Muhasabah bukan berarti membenci dunia. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan kerja, harta, atau cita-cita. Yang diajarkan adalah menempatkannya di tangan, bukan di hati. Dunia sebagai sarana, bukan tujuan. Sebab hati yang terlalu penuh dengan dunia akan sulit mengingat kematian—dan hati yang lupa mati akan sulit hidup dengan benar.
Mungkin kita tidak perlu perubahan besar hari ini. Cukup satu jeda kecil: shalat yang lebih khusyuk, doa yang lebih jujur, istighfar yang lebih sering. Cukup dengan bertanya pada diri sendiri sebelum tidur: “Jika malam ini aku dipanggil, apakah aku siap?”
Pertanyaan itu bukan untuk membuat kita putus asa, tapi untuk membuat kita kembali.
Sebab kematian bukan akhir cerita, melainkan awal dari kehidupan yang sebenarnya. Dan alangkah ruginya jika kita sampai ke sana dalam keadaan lalai.
Semoga Allah membangunkan kita dari ghaflah—sebelum benar-benar terlambat.

0 Komentar