Ada satu nasihat Rasulullah ï·º yang dulu sering saya dengar, tetapi baru belakangan ini benar-benar saya rasakan maknanya: perbanyaklah mengingat kematian. Dalam Islam, ia dikenal sebagai dzikrul maut—mengingat mati. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai penuntun. Bukan untuk membuat hidup terasa gelap, tetapi justru agar hidup menjadi lebih terang dan terarah.
Saya menyadari, selama ini saya sering mengingat kematian hanya ketika kabar duka datang. Saat ada yang pergi lebih dulu. Saat tubuh seseorang terbujur kaku dan doa-doa dipanjatkan. Setelah itu, hidup kembali berjalan seperti biasa—ambisi kembali dikejar, emosi kembali dipelihara, dan niat kembali bercampur.
Padahal, mengingat kematian seharusnya bukan peristiwa sesaat, melainkan kesadaran yang menemani hidup.
Ketika seseorang benar-benar menyadari bahwa hidup ini tidak panjang dan tidak pasti, ada perubahan halus yang terjadi dalam dirinya. Perubahan yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi terasa di dalam. Saya merasakannya: hati menjadi lebih waspada, ucapan lebih terjaga, dan pilihan hidup lebih dipertimbangkan.
Mengingat mati membuat saya bertanya: jika hari ini adalah hari terakhir, apakah cara saya berbicara sudah cukup baik? Apakah niat saya cukup lurus? Apakah hubungan saya dengan Allah dan manusia sudah cukup bersih?
Dzikrul Maut dan Akhlak yang Lebih Lembut
Salah satu dampak paling nyata dari mengingat kematian adalah perubahan akhlak. Ketika saya menyadari bahwa suatu hari saya akan meninggalkan dunia ini, amarah terasa tidak lagi pantas dipelihara terlalu lama. Ego terasa terlalu mahal untuk dipertahankan. Dendam terasa terlalu berat untuk dibawa.
Kematian mengajarkan satu pelajaran penting: tidak semua hal layak dimenangkan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tersulut oleh hal-hal kecil. Perbedaan pendapat, komentar orang lain, atau perlakuan yang tidak sesuai harapan. Namun dzikrul maut menghadirkan jarak batin—jarak yang membuat kita bertanya, apakah ini akan berarti di hadapan Allah nanti?
Pelan-pelan, mengingat kematian menumbuhkan akhlak yang lebih lembut. Kita menjadi lebih mudah memaafkan, karena sadar waktu terlalu singkat untuk permusuhan. Lebih berhati-hati dalam berbicara, karena sadar setiap kata akan dipertanggungjawabkan. Lebih peduli pada sesama, karena sadar setiap manusia sedang berjalan menuju akhir yang sama.
Meluruskan Niat di Tengah Hiruk Pikuk Dunia
Niat adalah perkara yang paling halus, sekaligus paling mudah bergeser. Amal yang awalnya diniatkan karena Allah, bisa berubah menjadi pencarian pengakuan. Kebaikan yang seharusnya sunyi, perlahan ingin dilihat dan dipuji.
Di sinilah dzikrul maut bekerja sebagai penjernih.
Ketika saya mengingat kematian, saya sadar bahwa semua penilaian manusia akan berhenti di liang lahat. Tepuk tangan, sanjungan, bahkan celaan—semuanya tidak ikut terkubur. Yang tertinggal hanyalah niat dan amal yang benar-benar tulus.
Mengingat mati membuat saya kembali bertanya sebelum berbuat: untuk siapa ini saya lakukan? Jika bukan untuk Allah, lalu untuk apa? Jika hanya untuk dunia, seberapa lama dunia akan bertahan?
Kesadaran ini tidak membuat hidup kehilangan semangat. Justru sebaliknya, ia membuat hidup terasa lebih jujur. Kita beramal bukan untuk terlihat baik, tetapi karena ingin menjadi baik di hadapan Allah.
Menguatkan Hubungan dengan Allah
Bagi saya, dzikrul maut juga mengubah cara memandang Allah. Dari sekadar rasa takut, menuju rasa harap yang lebih dalam. Mengingat kematian menyadarkan bahwa kita akan kembali kepada-Nya—dengan segala kekurangan dan kelemahan.
Islam tidak mengajarkan kita untuk putus asa karena dosa. Allah Maha Pengampun, dan pintu taubat terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Mengingat kematian justru membuat doa terasa lebih jujur dan lebih sungguh-sungguh.
Shalat tidak lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan. Dzikir tidak lagi rutinitas, tetapi pegangan. Doa husnul khatimah bukan lagi hafalan, tetapi permohonan yang lahir dari kesadaran akan keterbatasan diri.
Saya belajar bahwa mendekat kepada Allah tidak harus menunggu sempurna. Justru dengan mengingat kematian, saya sadar bahwa kesempurnaan bukan syarat untuk kembali—kerendahan hati dan harapanlah yang utama.
Memperbaiki Hubungan dengan Sesama Manusia
Mengingat mati juga mengubah cara saya memandang manusia lain. Setiap orang, betapapun berbeda latar belakangnya, sedang menuju akhir yang sama. Kesadaran ini menumbuhkan empati.
Orang yang hari ini menyakiti kita, bisa jadi sedang berjuang dengan lukanya sendiri. Orang yang hari ini kita abaikan, bisa jadi esok sudah tidak ada. Maka mengapa harus menunda kebaikan? Mengapa harus pelit pada maaf?
Dzikrul maut mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang mau lebih dulu merendah sebelum waktu habis.
Mengingat Mati untuk Hidup Lebih Baik
Islam tidak mengajarkan kita untuk terobsesi pada kematian, tetapi menjadikannya kompas kehidupan. Mengingat mati bukan untuk membuat hidup suram, melainkan untuk membuat hidup lebih bermakna.
Bagi saya, dzikrul maut adalah cara Allah menegur dengan lembut. Ia mengingatkan tanpa menghardik, menyadarkan tanpa memaksa. Ia mengajak kita hidup dengan lebih sadar—sadar akan waktu, sadar akan niat, sadar akan tujuan.
Setiap kali mengingat kematian, saya tidak ingin hidup lebih takut. Saya ingin hidup lebih baik. Lebih jujur dalam niat. Lebih lembut dalam akhlak. Lebih dekat dengan Allah. Lebih bermanfaat bagi sesama.
Karena pada akhirnya, kematian bukan tentang bagaimana kita pergi, tetapi tentang bagaimana kita menjalani hidup sebelum dipanggil pulang.
Dan semoga, ketika saat itu tiba, kita termasuk orang-orang yang tidak menyesal karena telah berusaha memperbaiki hidup—sebelum waktu benar-benar habis.

0 Komentar