Saya sering berpikir bahwa hidup ini seperti perjalanan yang rutenya kita kenal, tetapi waktu tibanya kita tidak pernah diberi tahu.
Kita tahu ujungnya—kematian—namun tidak pernah tahu jam berapa kereta terakhir itu datang. Dan justru di sanalah letak rahasianya: kematian adalah kepastian, tetapi waktunya adalah misteri ilahi yang hanya Allah ketahui.
Dalam keseharian, saya hidup seperti banyak orang lainnya. Menyusun rencana, menunda sebagian hal, dan meyakinkan diri bahwa masih ada “nanti”. Nanti bertobat, nanti lebih rajin salat, nanti lebih sabar pada keluarga, nanti lebih jujur pada diri sendiri. Kata “nanti” terasa murah dan mudah diucapkan—padahal bisa jadi itulah kata paling mahal yang kita pertaruhkan.
Islam tidak pernah menyembunyikan fakta tentang kematian. Justru sebaliknya, ia menyebutkannya berulang kali sebagai pengingat. Setiap jiwa akan merasakannya.
Tidak ada pengecualian. Namun ketika bicara tentang kapan, Al-Qur’an seperti berhenti sejenak dan berkata: itu bukan wilayah manusia. Waktu kematian disimpan rapi oleh Allah, sebagaimana rahasia turunnya hujan, rezeki esok hari, dan apa yang akan kita jumpai di masa depan.
Saya pernah berdiri di pemakaman, memandangi nisan-nisan yang berjejer. Nama-nama di atasnya tidak berbeda jauh dari nama kita: ayah, ibu, pedagang, guru, anak muda, bahkan bayi. Mereka semua pernah punya rencana. Pernah bangun pagi dengan daftar tugas. Pernah merasa hidup masih panjang. Tetapi tak satu pun dari mereka tahu hari terakhirnya adalah hari itu.
Di situlah saya tersadar: kematian tidak menunggu kita siap.
Sering kali kita memperlakukan kematian sebagai cerita orang lain. Ia terasa jauh, abstrak, seperti berita di layar ponsel.
Padahal Islam mengajarkan bahwa kematian lebih dekat daripada urat leher. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menyadarkan. Bahwa hidup ini bukan milik kita sepenuhnya, melainkan titipan dengan batas waktu yang tidak diberi pengumuman.
Rasulullah ï·º pernah mengingatkan agar manusia memperbanyak mengingat pemutus segala kenikmatan. Bukan karena Islam membenci kebahagiaan, tetapi karena kesadaran akan kematian membuat kebahagiaan menjadi jujur dan tidak berlebihan. Orang yang ingat mati tidak mudah sombong saat berhasil, dan tidak putus asa saat gagal. Ia tahu semua ini sementara.
Namun yang paling menenangkan bagi saya adalah satu hal: kematian bukan kebetulan. Ia tidak datang terlalu cepat, dan tidak pula terlambat sedetik pun. Dalam pandangan iman, kematian adalah janji yang ditepati tepat waktu—menurut ukuran Allah, bukan ukuran kita. Apa yang bagi kita terasa “tiba-tiba”, bagi Allah adalah ketetapan yang sudah lama ditulis.
Kesadaran ini perlahan mengubah cara saya memandang hidup. Saya mulai bertanya, bukan “berapa lama lagi saya hidup?”, tetapi “apa yang saya lakukan jika hari ini adalah yang terakhir?”. Bukan dengan kepanikan, melainkan dengan kejujuran. Apakah salat saya sekadar rutinitas, atau perjumpaan? Apakah kebaikan saya tulus, atau sekadar citra? Apakah saya sudah meminta maaf pada orang yang pernah saya sakiti?
Tadabbur tentang kematian justru menghidupkan. Ia membuat waktu menjadi bernilai. Detik menjadi amanah. Nafas menjadi dzikir yang belum tentu terulang. Saya belajar bahwa kesiapan menghadapi kematian bukan berarti menunggu ajal, tetapi memperbaiki niat setiap hari.
Allah, dalam kasih sayang-Nya, merahasiakan waktu kematian agar manusia tidak tenggelam dalam ketakutan atau kelalaian. Jika kita tahu tanggalnya, mungkin hidup hanya akan benar di hari-hari terakhir. Tetapi karena tidak tahu, setiap hari diberi kesempatan untuk menjadi hari terakhir yang baik.
Dan di situlah harapan itu tumbuh.
Kematian, dalam iman, bukan akhir yang gelap. Ia adalah pintu. Pintu menuju perjumpaan dengan Tuhan yang Maha Mengetahui, yang lebih tahu kapan seorang hamba siap pulang. Maka tugas saya—tugas kita—bukan menebak kapan pintu itu terbuka, melainkan memastikan bahwa ketika ia terbuka, kita datang dengan hati yang berserah.
Saya tidak tahu kapan saya akan mati. Tetapi saya tahu siapa yang memegang waktunya. Dan pengetahuan itu, entah mengapa, membuat saya ingin hidup dengan lebih lembut, lebih jujur, dan lebih sadar—hari ini.
Karena kematian adalah rahasia Allah.
Dan hidup adalah kesempatan yang sedang berjalan.
Simak selengkapnya di sini!

0 Komentar