Ada satu pertanyaan yang belakangan ini sering mampir ke benakku, biasanya datang diam-diam di waktu yang tak terduga—saat malam mulai sunyi, atau ketika aku selesai menunaikan salat dan belum beranjak dari sajadah.

“Jika hari ini adalah hari terakhirku, apa yang sudah kusiapkan untuk bertemu Allah?”

Pertanyaan itu tidak datang untuk menakut-nakuti. Ia datang seperti cermin. Jujur. Tanpa basa-basi.

Aku mencoba menjawabnya dalam hati, dan mendapati diriku lebih banyak diam daripada yakin. Bukan karena aku tak pernah berbuat baik, tetapi karena aku sadar: begitu banyak amal yang kulakukan masih tercampur dengan kelalaian, niat yang setengah-setengah, dan penundaan yang terlalu sering.

Aku masih hidup dengan banyak rencana dunia. Target, keinginan, daftar mimpi yang ingin kukejar. Tapi ketika pertanyaan itu datang, semua terasa seperti kabut. Yang tersisa hanya satu kenyataan: aku belum pernah benar-benar siap untuk pulang.

Selama ini, kematian sering kutempatkan di masa depan. Sesuatu yang pasti, tapi seolah masih jauh. Padahal, setiap hari Allah memperlihatkan tanda-tandanya—melalui kabar duka, melalui usia yang bertambah, melalui tubuh yang perlahan berubah. Namun aku tetap menunda: menunda taubat, menunda memaafkan, menunda memperbaiki hubungan, menunda menjadi hamba yang lebih jujur di hadapan-Nya.

Aku bertanya pada diriku sendiri:
Jika hari ini adalah hari terakhirku,
– Apakah salatku sudah cukup khusyuk untuk menjadi bekal?
– Apakah lisanku lebih banyak berdzikir atau melukai?
– Apakah aku pergi dengan hati yang bersih dari dendam dan iri?
– Apakah aku meninggalkan kebaikan yang diam-diam, atau justru luka yang belum sempat kusembuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu menghasilkan jawaban yang menenangkan. Tapi justru di sanalah letak kejujurannya. Muhasabah bukan tentang merasa paling buruk, melainkan tentang berani melihat diri apa adanya.

Aku menyadari satu hal: Allah tidak menuntut kesempurnaan, tapi kejujuran.
Kejujuran untuk mengakui kelemahan.
Kejujuran untuk kembali ketika tersesat.
Kejujuran untuk berharap pada rahmat-Nya, bukan pada amal sendiri.

Jika hari ini adalah hari terakhirku, mungkin bekalku belum banyak. Tapi aku ingin setidaknya menghadap Allah dengan hati yang mengakui: “Ya Allah, aku datang dengan segala kekuranganku. Aku lemah, tapi aku berharap.”

Seri tulisan tentang kematian ini bukanlah tentang menakut-nakuti diri sendiri, apalagi orang lain. Ia adalah perjalanan kecil untuk mengingatkan bahwa hidup bukan sekadar tentang bertahan, tapi tentang bersiap. Bersiap menjadi hamba yang pulang, bukan yang pergi dengan tangan kosong.

Aku belajar bahwa mengingat kematian tidak membuat hidup suram. Justru ia membuat hidup lebih jujur. Lebih berhati-hati dalam berkata. Lebih lembut dalam bersikap. Lebih sadar bahwa setiap detik adalah kesempatan, bukan jaminan.

Dan jika esok masih Allah beri waktu, semoga aku menggunakannya dengan lebih baik. Bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi lebih sadar. Lebih tunduk. Lebih berserah.

Aku ingin menutup tulisan ini bukan dengan kesimpulan, melainkan dengan doa—doa yang pelan, tapi tulus.

Ya Allah,
jika hari ini adalah hari terakhirku,
jangan Engkau palingkan wajah-Mu dariku.
Terimalah aku dengan rahmat-Mu,
tutupi kekuranganku dengan ampunan-Mu,
dan kuatkan hatiku agar selalu kembali kepada-Mu.

Dan jika Engkau masih memberiku hari esok,
jadikan aku hamba yang lebih siap untuk pulang.
Aamiin. 🤲