Saya pernah berdiri di sebuah pemakaman umum, menatap deretan nisan yang tampak serupa. Tidak ada perbedaan mencolok di sana. Tidak tertulis siapa yang dulu pejabat, siapa yang hanya buruh harian. Tidak tercantum saldo rekening, jabatan terakhir, atau jumlah pengikut di media sosial. Semua nama terbaring dalam kesunyian yang sama.

Di hadapan kematian, dunia tiba-tiba kehilangan seluruh atributnya.

Dalam hidup, kita terbiasa membedakan manusia berdasarkan apa yang melekat pada mereka: harta, status, gelar, kedudukan. Kita diajari—secara halus maupun terang-terangan—bahwa sebagian orang lebih “tinggi” dari yang lain. Namun Islam menghadirkan satu pengingat yang tegas dan jujur: kematian menghapus seluruh perbedaan itu.

Saat seseorang meninggal, ia tidak dibungkus dengan simbol-simbol duniawi. Tidak ada jas mahal. Tidak ada pangkat. Yang membalut tubuhnya hanyalah kain kafan—sederhana, seragam, dan sama bagi semua. Di situ saya merasa seperti sedang diajak merenung: betapa rapuhnya semua yang selama ini kita banggakan.

Islam tidak pernah menafikan perbedaan kemampuan, rezeki, atau peran manusia di dunia. Namun, Islam juga sangat jelas menegaskan bahwa semua itu tidak menjadi ukuran kemuliaan di sisi Allah. Yang menjadi pembeda hanyalah satu: amal dan ketakwaan.

Saya sering bertanya pada diri sendiri: jika hari ini kematian datang, apa yang benar-benar bisa saya bawa?

Rumah tidak ikut. Kendaraan tertinggal. Nama besar perlahan memudar. Bahkan pujian manusia berhenti di liang lahat. Yang tersisa hanyalah catatan amal—yang sebagian besar tidak pernah dilihat orang lain. Shalat yang dilakukan diam-diam. Kejujuran yang dipertahankan saat tak ada saksi. Kesabaran ketika tidak ada yang tahu betapa beratnya ujian.

Di situlah kematian bekerja sebagai penyeimbang. Ia meruntuhkan kesombongan secara total.

Saya teringat satu refleksi sederhana: dua orang bisa berdiri sejajar dalam shaf shalat—yang satu kaya raya, yang lain hidup pas-pasan. Tidak ada tempat khusus bagi yang berharta. Tidak ada jarak bagi yang berpangkat. Semua berdiri dalam posisi yang sama, menghadap arah yang sama, menyembah Tuhan yang sama. Kematian hanyalah kelanjutan dari kesetaraan itu, dalam bentuk yang lebih mutlak.

Ketika jenazah dishalatkan, tidak ada doa khusus untuk “orang penting”. Semua diperlakukan dengan adab yang sama. Doanya pun sama: memohonkan ampun, rahmat, dan keselamatan. Seolah Islam ingin berkata dengan lembut namun tegas: yang kita butuhkan di akhir hanyalah kasih sayang Allah, bukan pengakuan manusia.

Kesadaran ini pelan-pelan mengubah cara saya memandang hidup. Saya mulai curiga pada ambisi yang hanya ingin terlihat hebat di mata orang lain. Saya mulai bertanya ulang: apakah yang saya kejar hari ini akan berarti saat saya sudah tak bernapas?

Kematian mengajarkan bahwa hidup bukan lomba pamer, melainkan ladang amal. Bukan soal siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling tulus. Bukan siapa yang paling dipuji, tetapi siapa yang paling bertakwa.

Dan ketakwaan itu sering kali sunyi. Ia tumbuh dalam ruang-ruang yang tidak ramai. Dalam keputusan kecil yang tidak viral. Dalam menahan diri ketika mampu berbuat sebaliknya. Dalam memilih jujur meski rugi. Dalam memaafkan meski sakit.

Di hadapan Allah, semua manusia datang tanpa atribut. Yang diperhitungkan bukan siapa kita di dunia, melainkan bagaimana kita berjalan di dalamnya.

Mungkin itulah mengapa mengingat kematian terasa penting dalam Islam. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meluruskan orientasi. Agar kita tidak tertipu oleh gemerlap yang sementara. Agar kita tidak merasa lebih tinggi dari sesama. Agar kita sadar bahwa yang benar-benar berharga sering kali tidak kasatmata.

Ketika kematian datang, semua menjadi sama. Dan justru di situlah keadilan ilahi bekerja dengan sempurna.

Ia menghapus hirarki palsu buatan manusia, lalu menyisakan satu pertanyaan yang tak bisa dihindari: apa yang sudah kita siapkan untuk bertemu Allah?

Pertanyaan itu tidak membutuhkan jawaban lisan. Ia akan terjawab sendiri—oleh amal yang kita tanam selama hidup.

Dan semoga, saat saat itu tiba, kita termasuk orang-orang yang ringan langkahnya, karena tidak terlalu banyak membawa beban dunia, dan cukup membawa bekal yang benar-benar berarti.