Saya sering berpikir bahwa kematian adalah kata yang paling sering kita dengar, tetapi paling jarang kita renungkan dengan sungguh-sungguh. 

Ia disebut dalam berita, dibisikkan dalam doa, dan muncul tiba-tiba dalam kabar duka. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap hidup seolah kematian adalah urusan orang lain—bukan saya, bukan hari ini.

Dalam Islam, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru adalah akhir dari satu babak dan awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Dunia hanyalah persinggahan, sementara akhirat adalah tujuan. Kalimat ini sering kita dengar, tetapi maknanya baru terasa dalam ketika kematian datang dekat—entah lewat kehilangan orang tercinta, atau ketika tubuh sendiri mulai menyadari keterbatasannya.

Saya teringat satu momen sederhana: berdiri di pemakaman setelah shalat jenazah. Tanah masih merah, doa-doa masih hangat, dan nama yang tadi disebut-sebut kini perlahan larut dalam keheningan. Di sana, tidak ada lagi jabatan, tidak ada lagi harta, tidak ada lagi pujian. Yang tersisa hanyalah amal, dan harapan akan rahmat Allah.

Islam mengajarkan bahwa kematian adalah kepastian. Kullu nafsin dzāiqatul maut—setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Namun, yang sering luput dari perhatian kita bukanlah kepastian kematiannya, melainkan bagaimana keadaan kita saat kematian itu datang. Di sinilah konsep husnul khatimah menjadi doa yang tak pernah selesai kita panjatkan.

Husnul khatimah bukan tentang hidup tanpa dosa. Ia tentang bagaimana Allah menutup hidup kita dengan kebaikan, taubat, dan iman. Ia adalah karunia, bukan semata hasil usaha. Karena itu, Islam selalu mengajarkan keseimbangan: beramal sebaik mungkin, tetapi tetap bersandar penuh pada rahmat Allah.

Saya pribadi sering merasa kecil ketika merenungkan ini. Amal terasa sedikit, dosa terasa banyak. Namun justru di sanalah Islam menghadirkan harapan. Allah tidak menilai kita seperti manusia menilai manusia. Dia Maha Mengetahui niat, Maha Pengampun terhadap hamba yang kembali, dan Maha Lembut kepada mereka yang berharap.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seseorang akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan saat ia meninggal. Hadis ini membuat saya merenung: dalam keadaan apa saya ingin dipanggil Allah? Apakah dalam kelalaian, atau dalam dzikir? Dalam amarah dunia, atau dalam sujud yang penuh pengharapan?

Kematian dalam Islam bukanlah sesuatu yang harus ditakuti secara membabi buta, melainkan disiapkan dengan penuh kesadaran. Takut, ya—tetapi takut yang melahirkan taubat. Cemas, ya—tetapi cemas yang mendorong amal. Harap, selalu—karena rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa-dosa kita.

Dunia sering mengajarkan kita untuk mengejar pengakuan, pencapaian, dan keamanan materi. Tetapi kematian dengan lembut membisikkan kebenaran lain: tidak ada satu pun yang kita bawa, kecuali apa yang kita tanam untuk akhirat. Bahkan tubuh yang kita rawat pun akan kembali ke tanah.

Namun, Islam tidak pernah mengajarkan keputusasaan. Justru sebaliknya, pintu taubat selalu terbuka hingga nyawa berada di tenggorokan. Selama masih diberi waktu, sekecil apa pun langkah kebaikan, ia tetap berarti. Senyum yang tulus, doa yang lirih, sedekah yang tersembunyi—semuanya bisa menjadi cahaya di alam kubur.

Saya belajar bahwa mempersiapkan kematian bukan berarti berhenti mencintai dunia. Ia berarti mencintai dunia dengan cara yang benar: tidak menggenggamnya terlalu erat, tidak menaruh harapan di tempat yang rapuh, dan selalu mengaitkannya dengan ridha Allah.

Kematian adalah akhir kehidupan dunia, tetapi bagi seorang mukmin, ia adalah awal perjumpaan. Awal pertanggungjawaban, ya, tetapi juga awal pengharapan akan rahmat-Nya. Kita tidak tahu bagaimana akhir cerita kita, tetapi kita tahu kepada siapa kita berharap.

Maka, setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki arah. Setiap nafas adalah undangan untuk kembali. Dan setiap doa husnul khatimah adalah pengakuan paling jujur bahwa tanpa rahmat Allah, kita bukan apa-apa.

Semoga ketika waktu itu tiba, Allah memanggil kita dalam keadaan Dia ridha, dan kita pun ridha kepada-Nya. Aamiin.