Ada satu fase kehidupan yang pasti akan kita lalui, namun sering kita bicarakan dengan suara yang direndahkan—bahkan kadang kita hindari sama sekali.
Ia bukan karena menakutkan, melainkan karena terlalu sunyi untuk dibahas dengan gegap gempita. Fase itu bernama sakaratul maut: detik-detik terakhir kehidupan manusia di dunia.
Dalam Islam, sakaratul maut bukan sekadar peristiwa biologis ketika napas melemah dan tubuh tak lagi merespons. Ia adalah peralihan, sebuah perjalanan pulang. Maka membicarakannya sejatinya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengingatkan dengan penuh adab: bahwa hidup ini ada ujungnya, dan ujung itu tidak gelap—ia bercahaya bagi mereka yang berharap pada rahmat Allah.
Al-Qur’an menyebut, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya; itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19). Ayat ini tidak berbicara dengan nada ancaman. Ia seperti pernyataan tenang tentang kenyataan yang tak bisa ditawar. Datangnya pasti, tetapi bagaimana ia dirasakan, sangat bergantung pada hubungan batin manusia dengan Tuhannya.
Para ulama menjelaskan bahwa sakaratul maut bisa terasa berat secara fisik—dan Islam tidak menafikan itu. Bahkan Nabi Muhammad ï·º, manusia paling mulia, juga merasakan beratnya sakaratul maut. Dalam sebuah riwayat, beliau menyebut bahwa sakaratul maut memang memiliki kepedihan. Ini mengajarkan kita satu hal penting: merasakan beratnya sakaratul maut bukan tanda keburukan iman. Ia adalah bagian dari kemanusiaan.
Namun di balik itu, ada sisi lain yang sering luput dibicarakan: kelembutan Allah di detik-detik terakhir seorang hamba.
Bagi orang yang beriman, malaikat tidak datang dengan wajah muram. Al-Qur’an menggambarkan mereka berkata,
“Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih; bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fussilat: 30).
Kalimat ini bukan kalimat hukuman. Ia adalah kalimat penenang—seperti pelukan terakhir sebelum perjalanan panjang.
Bayangkan seseorang yang sepanjang hidupnya berusaha jujur meski tak sempurna, jatuh bangun dalam taubat, sering lalai namun selalu kembali. Allah Maha Mengetahui isi hatinya. Maka sakaratul maut baginya bukan interogasi, melainkan perjumpaan.
Dalam detik-detik itu, dunia mulai mengecil. Harta, jabatan, dan hiruk pikuk yang dulu terasa penting, perlahan memudar. Yang tersisa adalah kesadaran paling jujur tentang diri sendiri: hubungan dengan Allah, dengan sesama, dan dengan nurani. Tidak ada lagi ruang untuk pencitraan. Hanya kejujuran yang tersisa.
Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk husnuzan—berprasangka baik kepada Allah—bahkan di akhir hayat. Rasulullah ï·º bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” Ini adalah pesan kasih. Allah ingin hamba-Nya pulang dengan harapan, bukan ketakutan.
Sakaratul maut juga menjadi pengingat lembut bagi yang masih hidup. Ia tidak memaksa kita menjadi sempurna hari ini, tapi mengajak kita untuk jujur: sudahkah kita berjalan ke arah yang benar, meski pelan? Sudahkah kita meminta maaf, memaafkan, dan menata niat?
Tidak semua orang diberi waktu panjang untuk bersiap. Namun setiap orang diberi kesempatan untuk berharap. Dan rahmat Allah selalu lebih luas dari dosa manusia. Bahkan dalam hadis qudsi, Allah berfirman bahwa rahmat-Nya mendahului murka-Nya.
Maka ketika kita membicarakan sakaratul maut, seharusnya ia membuat hati melunak, bukan mengeras. Membuat kita lebih lembut kepada sesama, lebih sabar, lebih sadar bahwa hidup ini rapuh dan karena itu berharga.
Barangkali, cara terbaik mempersiapkan sakaratul maut bukan dengan ketakutan berlebihan, tetapi dengan menjalani hidup yang tulus. Menjaga shalat meski kadang tertatih. Berbuat baik meski kecil. Menangis dalam doa meski tak fasih. Semua itu dicatat oleh Allah Yang Maha Lembut.
Dan ketika saat itu tiba—kapan pun dan di mana pun—kita berharap bisa pulang sebagai hamba, bukan sebagai orang asing di hadapan Tuhannya.
Karena sejatinya, sakaratul maut bukan akhir dari segalanya. Ia adalah awal dari pertemuan paling jujur antara jiwa dan kasih sayang Allah.

0 Komentar