Kamis, 12 Mei 2016

Bung Hatta Menangis Ketika Menjenguk Sukarno yang Sedang Sekarat

Oleh: Alwi Shahab

Hingga kini tetap marak perdebatan mengenai masa depan pemerintahan RI, antara sistem otonomi daerah dan sistem federasi, di tengah-tengah keemohan daerah-daerah terhadap sistem sentralisme selama ini.

Lepas dari maraknya beda pendapat mengenai sistem pemerintahan masa mendatang itu, rupanya beda pendapat ini pernah terjadi pada awal-awal pembentukan negara. Tidak tanggung-tanggung, antara Bung Karno dan Bung Hatta, yang pada 17 Aguistus 1945 bersama-sama memproklamasikan kemerdekaan RI.

Masalah perbedaan ini dikemukakan sendiri oleh kedua tokoh nasional dan bapak bangsa itu. ”Saya pernah bertanya kepada Bung Karno, apa bedanya ia dengan Bung Hatta,” demikian Solichin Salam dalam bukunya, Soekarno-Hatta, yang diterbitkan Pusat Studi dan Penelitian Islam.
”Saya unitaris, Hatta federalis,” jawab Bung Karno singkat.

Terbentuknya RIS

Setelah itu, Solichin mewawancarai Bung Hatta. ”Berbicara tentang bentuk negara Indonesia yang dicita-citakan sebelum Indonesia merdeka, saya tanyakan kepada Bung Hatta kenapa ia waktu itu cenderung pada bentuk negara federal dari negara kesatuan.”
Jawab Bung Hatta, ”Saya cenderung kepada bentuk negara federal karena melihat contoh negara-negara besar waktu itu, seperti Amerika Serikat atau Uni Soviet yang semuanya berbentuk federal.”
Tetapi, sekalipun berbeda pendapat, sebagai seorang demokrat, Bung Hatta tetap tunduk dan patuh kepada keputusan suara terbanyak, memilih NKRI.
Bung Karno pada masa demokrasi terpimpin sering mengkritik hasil Konperensi Medja Bundar (KMB) di Den Haag, ketika delegasi Indonesia dipimpin oleh Bung Hatta. Sebagai hasil KMB akhir Desember 1949, Indonesia dan Belanda menyetujui pembentukan negara Republik Indonesia Serikat (RIS) yang berbentuk negara federal.
Menurut Bung Karno, akibat kompromi-kompromi mental inilah yang mengakibatkan memburuknya keadaan pada 1950-1962.

Sukarno dan Hatta Kerap Beda Pendapat

Kedua proklamator kemerdekaan ini bahkan mengakui, perbedaan pendapat dan pendirian mereka terjadi sejak 1930-an saat keduanya menggerakkan perjuangan kemerdekaan.

”Hatta berlainan sekali denganku dalam sifat dan pembawaan,” kata Presiden Sukarno dalam bukunya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat karangan Cindy Adams. Namun, Bung Karno sendiri, termasuk pada masa jayanya PKI, tetap memuji Bung Hatta selama perjuangannya itu.
Dalam perjuangan di masa itu, menurut Bung Karno, Hatta menekankan kepada kader-kader, sedangkan ia lebih memilih mendatangi secara langsung rakyat jelata dan membakar hati mereka seperti yang selama ini dilakukannya. Menurut Bung Karno, cara yang dilakukan Hatta memerlukan waktu sangat lama dan "baru tercapai bila dunia kiamat".

Namun, Hatta tetap pada pendirian melakukan perjuangan melalui pendidikan praktis kepada rakyat. Cara ini, menurut Bung Hatta, lebih baik daripada dasar daya tarik pribadi seorang pemimpin seperti yang dilakukan Bung Karno.

Hingga apabila pimpinan atasan tidak ada, praktis tetap berjalan dengan pimpinan bawahan. Sebab, selama ini, kata Hatta waktu itu, praktis partai tidak berjalan kalau Sukarno tidak ada.

Hatta Mundur Sebagai Wakil Presiden

I Wangsa Widjaya, dalam buku Mengenang Bung Hatta, menulis, di balik perbedaan yang ada di antara kedua tokoh nasional ini, ada sesuatu yang sangat unik. ”Antara Bung Karno dan Bung Hatta telah terjalin satu hubungan yang amat akrab sehingga orang menyebutnya dwitunggal.”
Sikap erat kedua tokoh nasional Indonesia ini sudah ditampakkan pada masa pendudukan Jepang. Bahkan, pada 17 Agustus 1945, saat Bung Karno didesak oleh para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan, ia menolak sebelum Bung Hatta datang.

Memang kemudian dwitunggal itu tidak berfungsi lagi dengan pengunduran diri Bung Hatta sebagai wakil presiden pada 1 Desember 1956. Terjadi beberapa perbedaan prinsip di antara keduanya.
Hatta tidak sependapat dengan Bung Karno bahwa revolusi belum selesai dan agak mengesampingkan pembangunan. Ia berpendapat revolusi sudah selesai dengan tercapainya kemerdekaan.

Hatta Sedih Melihat Kesehatan Sukarno yang Memburuk

Sesampainya Bung Hatta dan sekretarisnya ke RSPAD, mereka mendapatkan bahwa Bung Karno sudah tidak sadarkan diri. ”Saya melihat Bung Hatta begitu sedih melihat keadaan Bung Karno,” tulis Wangsawidjaja. Namun, untungnya tidak lama kemudian Bung Karno siuman.

”O o Hatta, kau ada di sini. Kau juga Wangsa,” ujar Bung Karno perlahan. ”Sebenarnya masih ada ucapan lisan yang dikatakan oleh Bung Karno kepada Bung Hatta. Tetapi, saya tidak tahu persis, karena ucapan Bung Karno terlalu pelan,” tutur Wangsa.

Dan itulah pertemuan terakhir dua bapak bangsa, yang selama puluhan tahun berjuang untuk mencapai kemerdekaan, tanpa peduli harus masuk dan keluar penjara dan diasingkan ke berbagai tempat.

”Suatu pertemuan yang amat mengharukan antara dua orang sahabat,” demikian tulis Wangsawijaya.
Beberapa hari sebelum Bung Karno meninggal dunia, berita sakitnya itu dilaporkan oleh Ali Moertopo, asisten pribadi presiden, kepada Pak Harto di Bina Geraha. Rupanya, waktu itu Ali Moertopo masih menunjukkan ketidaksenangannya kepada Bung Karno.
”Kalau ia meninggal pun saya tidak regret,” katanya kepada pers.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar